Beranda > WARTA NGRAHO > PENGERUKAN PASIR

PENGERUKAN PASIR


Beberapa kali komentar yang masuk ke link ngraho ini menyoroti masalah pengerukan pasir yang saat ini masih berlanjut di di daerah kiringan, sumber agung, luwihaji, maupun mojorejo, perlu di ketahui pengerukan pasir ini sudah berlangsung bertahun tahun, yang mana armada truk yang melalui daerah yang di sebut di atas jelas telah mengakibatkan jalan raya di beberapa desa ini menjadi rusak parah, bahkan beberapa bulan yang lalu setelah jalan ini di perbaiki oleh pemda, sudah mulai terlihat rusak di sana sini,

Ironis memang, karena pengerukan pasir ini adalah salah satu mata pencaharian warga di pnggiran bengawan solo, di lain pihak tidak dapat di pungkiri armada truk yang melewati jalan di beberapa desa ini telah merusak jalan yang juga di lalui oleh orang banyak,

Untuk Saat Ini pengelolaan penambang Pasir ini Sudah Mulai di kelola oleh beberapa pihak dan juga di kelola oleh beberapa desa yang di lalui oleh armada truk melalui sytem retribusi, yang di kenakan kepada setiap armada truk yang lalu lalang mengangkut pasir, yang mana hasil dari retribusi ini di pergunakan untuk memperbaiki jalan rusak yang di sebabkan oleh truk pengankut pasir, retribusi ini di buat berdasarkan persetujuan bersama antara penambang, sopir armada dan pihak  yang mengelola retribusi ini ,

Semoga Dengan system pengelolaan tambang pasir ini menjadi jalan tengah agar tidak ada pihak yang dirugikan kususnya pengguna jalan raya, MESKIPUN kalau di pikir tetep orang kecil yang dirugikan, kususnya warga di pinggiran sungai bengawan solo yang tanahnya longsor akibat proses pengerukan pasir,….

Silakan Di pikir Sendiri untung Ruginya tentang penambangan pasir ini,…

  1. September 28, 2009 pukul 11:44 am

    Saya tinggal di jakarta aslinya dari ds Tapelan. Sejauh yang saya tau di desa Tapelan uang retribusi ini sudah berlaku sejak adanya pengerukan pasir menggunakan mesin penyedot, kalo di ds tapelan sejak th 2002. Berarti sudah sekitar 7-8 tahun, tapi untuk permasalahan jalan desa tetap saja dari jaman dulu sampai sekarang – menurut saya blom ada nilai plusnya dengan adanya usaha pengerukan pasir ini. padahal jalan desa telah mengantarkan mereka menuai rupiah yang tidak sedikit. Tentang uang retribusi, dibutuhkan orang-orang yang amanah-mampu berkomunikasi dengan masyarakat, aparat desa dan orang-orang yang terlibat dalam usaha ini-mampu memberikan pelaporan terbuka dan update paling tidak setiap bulan sekali, hal ini untuk manajemen kontrol baik pengurus juga masyarakat-orang tersebut bukan aparat desa tapi harus dipilih dengan musyawarah warga, paling tidak seperti itu. Terus terang prihatin dengan kondisi bengawan solo, mungkin sekarang ini orang ds tapelan (khususnya) baru bisa bilang “wah saiki gawane tambah ombo tambah jero, ora koyo biyen”. entah berapa tahun lagi orang ds tapelan tersadar dengan akibat yang ditimbulkan dari pengerukan pasir sekarang ini…

    • April 12, 2011 pukul 2:52 am

      Home run! Great slugging with that asnwre!

  2. September 30, 2009 pukul 9:02 am

    iya mas, saya bener2 priatin, yang kasian itu pemakai jalan, sudah lama kepingin ngrasain jalan alus, tapi setelah di betulin jalanya langsung rusak lagi, harusnya emang tu penambangan pasir di tutup aja, biar nggak ngrugiin orang banyak,.

  3. April 12, 2011 pukul 5:52 am

    IJWTS wow! Why can’t I think of thigns like that?

  4. H 4 R
    Agustus 4, 2011 pukul 3:26 pm

    Saya sangat prihatin dengan penyedotan pasir di Luwihaji yg jelas sangat merugikan orang banyak baik dari segi pemakai jalan dan pemilik tanah di pinggiran bengawan solo…. biarpun jalan depan rumah saya belum tersentuh aspal dari saya kecil depan rumah saya tak pernah becek… tetapi dengan keadaan sekarang biarpun sudah di uruk oleh si bos pasir malah tambah : debu, jalan jelek, truk siang malam wira wiri… terus.. … ya…… biarlah pasir di habiskan tapi jangan lupa dampak lingkungan tinggal menunggu ……..tahun kedepannya… … untuk sekarang bengawan solo makin lebar….. lahan (desa kita) makin mengecil karena terkikis…. untuk sekarang masa bodoh (sudah ada pemimpinya)

  5. djoe
    Desember 4, 2012 pukul 12:29 am

    parah iku kata yang pas buat jalan desa kami tapelan terutama jalan yang dilewati armada pengangkut pasir q asli tapelan mulai lahir,… q setuju sekali jika tambang pasir ditutup mohon pejabat terkait di bantu solusi untuk kelangsungan hidup pekerjanya ”ojok di jarno ae” saiki arep bluron ae angel.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: