Beranda > MOTIVASI > Menentukan gaya kepemimpinan

Menentukan gaya kepemimpinan


Untuk menentukan gaya kepemimpinan seseorang dapat dikaji melalui beberapa pendekatan namun secara ekstrem gaya kepemimpinan dapat diidentifikasi dengan dua kategori yaitu gaya kepemimpinan otokratis dan gaya kepemimpinan demokratis (Thoha, 1983:52).

Gaya kepemimpinan otokratis lebih menekankan pada kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin, semua kebijakan dan ketentuan yang berlaku ditentukan oleh pemimpin, bawahan tidak diberi keleluasaan untuk mengajukan keberatan maupun memberikan saran, sedangkan gaya kepemimpinan demokratis lebih menekankan pada keikutsertaan bawahan dalam pengambilan keputusan, kebijakan yang diputuskan merupakan hasil keputusan bersama.

Menurut Ngalim Purwanto (1991:48) gaya kepemimpinan yang pokok atau dapat disebut ekstrem ada tiga yaitu gaya kepemimpinan otokratis, laissez faire dan demokratis.
Kepemimpinan yang otokratis, dalam kepemimpinan yang otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakan dan memaksa kelompok. Kekuasaan pemimpin yang otokratis hanya dibatasi oleh undang-undang. Penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukan dan memberi perintah (Purwanto, 1991:48).

Pada gaya kepemimpinan ini keputusan mutlak ada pada tangan pemimpin, pemimpin mendikte tugas yang harus dikerjakan oleh bawahanya, dalam menilai bawahan bersifat subjektif dan karena langkah-langkah aktivitas dilakukan satu persatu oleh pemimpin maka langkah mendatang kadang tidak pasti.

Kepemimpinan yang laissez faire, dalam gaya kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin yang termasuk tipe ini sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadaap pekerjaan anggota-anggotanya (Purwanto, 1991:49).
Keputusan pada gaya kepemimpinan ini adalah ada pada tangan anggota, pemimpin sendiri tidak ikut dalam pembuatan keputusan, pemimpin tidak ikut campur dalam kegiatan kelompok, dan bahan untuk kerja disediakan oleh pemimpin.

Kepemimpinan yang demokratis, pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinan bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin ditengah-tengah anggota kelompoknya, pemimpin selalu berusaha menstimulasi anggotanya-anggotanya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya (Purwanto, 1991:50).
Dalam kepemimpinan demokratis keputusan merupakan hasil musyawarah, pimpinan memberikan masukan sebagai alternatif dalam pengambilan keputusan yang ditawarkan kepada anggota, pemimpin dalam kelompok bertindak aktif dan penilaian yang dilakukan oleh pemimpin adalah bersifat objektif.

Secara teoritis telah banyak dikenal gaya kepemimpinan, namun untuk menentukan gaya mana yang terbaik masih sulit ditentukan. Dalam mengkaji gaya kepemimpinan sedikitnya dapat dikaji dari tiga pendekatan yaitu pendekatan sifat, pendekatan perilaku dan pendekatan situasional.

Pustaka :Purwanto, M. Ngalim. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.

Kategori:MOTIVASI Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: